Indonesia sering disebut sebagai Negara yang berada di ambang keterpurukan. Kebobrokan dan kerusakan hampir didapatkan di setiap elemen birokrasi yang ada. Hal ini tentu sangat di sayangkan. Secara tidak langsung hal ini juga telah mencoreng status Indonesia yang di huni oleh mayoritas umat Muslim.
Umat islam dituntut untuk turut andil dalam menyelesaikan semua problem yang ada. Islam telah memiliki harta pusaka dari Rasulullah Saw berupa al-Quran dan Hadits. Sebagai pedoman utama, tentu saja akan memberikan efek negatif ketika ditinggalkan.
Telah di temukan berbagai macam percobaan dan usaha untuk mencapai taraf yang lebih baik. Tidak ada satu orangpun yang bersalah, apalagi disebut sebagai penjahat. Semua orang merasa benar. Akan tetapi ukuran kebenaran yang sering dipakai bukanlah standar islam. Sering sekali ditemukan bahwa standar yang penting gue senang. Ini artinya, hawa nafsu yang disertai adanya keinginan dan kebutuhan pribadi merasuki jiwa.
Badan memiliki jiwa (ruh) sehingga bisa bergerak dan bermanfa'at. Tanpa ada ruh yang menyertainya, sebuah badan tak ubahnya seperti bangkai yang tidak berguna, bahkan akan memberikan bau yang tidak enak jika di biarkan terus-menerus. Demikian pula segala perbuatan umat manusia, ia juga memiliki ruh (jiwa). Jiwa ini berupa keikhlasan.
Seseorang yang berbuat dengan penuh keikhlasan untuk dirinya, umatnya, negaranya, tentu akan mendapat dukungan dari orang lain, baik berupa sanjungan, motivasi bahkan bantuan materiil. Akan tetapi, orang yang berbuat tanpa diiringi keikhlasan, maka bagaimanapun ia berusaha menyembunyikan aibnya. sesuatu yang hanya menunggu hitungan hari ketika segala yang dilakukannya akan diketahui orang.
Keikhlasan seseorang dalam bekerja akan tampak dalam kesehariannya yang selalu jujur. Ia akan berusaha untuk selalu berbuat dengan benar dan berani menyatakan kebenaran. Kejujuran adalah salah satu tuntunan Islam yang telah mulai dilupakan. Kadang kala hal itu memang terasa pahit. Tapi itu kalau dilihat dari segi dhohiriyah dunyawiyah, maka hati nurani tentu akan berkata lain. Ia akan selalu sering sejalan dengan kebenaran. Selama tidak dicampuri oleh keinginan dan kebencian.
Sebaliknya, dalam melaksanakan lawan daripada jujur kok malah banyak yang mengatakan hal itu merupakan perbuatan yang gampang, mudah, dan enteng. Tidak segan orang akan berani menjadi saksi palsu, demi uang. Mereka siap melukai nurani, hanya untuk kepentingan sesaat.
Padahal, seburuk-buruk perbuatan adalah berbohong. Disebutkan,ra'su adz dzunubi al kadzibu. Yang artinya, pangkal dan sumber segala kejahatan adalah bohong ( dusta )'
Orang tidak akan bisa berbuat lagi jika kepalanya telah dipenggal. Dan untuk memenggal kejahatan-kejahatan yang lain hendaklah diawali dengan meninggalkan perkataan atau perbuatan yang masih mengandung unsur kedustaan.
Seorang arab Badui pernah datang menghadap Rasulullah sallallahualaihiwasallam, untuk menyatakan keinginannya memeluk islam. Ia sudah bosan dengan berbagai macam kejahatan yang telah dilakukannya, seperti mencuri, merampok, berzina, mabuk-mabukan, berjudi, dll.
Mendengar pengakuan dari arab Badui itu, Rasulullah hanya meminta dirinya untuk berjanji agar tidak berdusta. Dengan penuh heran, ia pun balik kerumah sebagai seorang muslim. Ia tidak pernah berpikir akan islam yangdemikian mudah baginya. Padahal sebelum ia telah berusaha untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat, akan tetapi selalu kambuh dengan adanya kesempatan.
Sehingga pada suatu hari muncullah hasratnya untuk mencuri. begitu tangan sudah mengulur, ia teringatakan janji yang tellah ia ucapkan di hadapan Rasulullah. Ia tidak berani berbohong, jika Rasulullah bertanya tentang perilakunya.
Demikian pula tatkala ia sudah mendekati perbuatan mabuk-mabukan, judi, dan zina. Ia selalu ingat akan janjinya kepada Rasulullah. Sehingga akhirnya sisa hidupnya dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama. Ia tidak sempat lagi untuk melakukan kemungkaran. Ia pun berubah ,menjadi seorang alim saleh.
Sungguh indah agama islam. Tatkala penganutnya berani jujur pada diri sendiri. Ia akan menemukan jati dirinya. Dimana tugasnya hanya menghamba kepada Yang Maha Kuasa, bukan kepada atasan di kantor ataupun kepada beberapa lembar uang. Meninggalkan perbuatan dusta menjadi kunci bagi orang yang ingin segera berubah menjadi orang yang lbaik ataupun menjadi orang yang lebih baik. Dalam ungkapan lain disebutkan Ar rahi ash Sharaha. Yang artinya, orang akan menemukan rasa lega tatkala ia telah berani untuk berterus terang.
Umat islam dituntut untuk turut andil dalam menyelesaikan semua problem yang ada. Islam telah memiliki harta pusaka dari Rasulullah Saw berupa al-Quran dan Hadits. Sebagai pedoman utama, tentu saja akan memberikan efek negatif ketika ditinggalkan.
Telah di temukan berbagai macam percobaan dan usaha untuk mencapai taraf yang lebih baik. Tidak ada satu orangpun yang bersalah, apalagi disebut sebagai penjahat. Semua orang merasa benar. Akan tetapi ukuran kebenaran yang sering dipakai bukanlah standar islam. Sering sekali ditemukan bahwa standar yang penting gue senang. Ini artinya, hawa nafsu yang disertai adanya keinginan dan kebutuhan pribadi merasuki jiwa.
Badan memiliki jiwa (ruh) sehingga bisa bergerak dan bermanfa'at. Tanpa ada ruh yang menyertainya, sebuah badan tak ubahnya seperti bangkai yang tidak berguna, bahkan akan memberikan bau yang tidak enak jika di biarkan terus-menerus. Demikian pula segala perbuatan umat manusia, ia juga memiliki ruh (jiwa). Jiwa ini berupa keikhlasan.
Seseorang yang berbuat dengan penuh keikhlasan untuk dirinya, umatnya, negaranya, tentu akan mendapat dukungan dari orang lain, baik berupa sanjungan, motivasi bahkan bantuan materiil. Akan tetapi, orang yang berbuat tanpa diiringi keikhlasan, maka bagaimanapun ia berusaha menyembunyikan aibnya. sesuatu yang hanya menunggu hitungan hari ketika segala yang dilakukannya akan diketahui orang.
Keikhlasan seseorang dalam bekerja akan tampak dalam kesehariannya yang selalu jujur. Ia akan berusaha untuk selalu berbuat dengan benar dan berani menyatakan kebenaran. Kejujuran adalah salah satu tuntunan Islam yang telah mulai dilupakan. Kadang kala hal itu memang terasa pahit. Tapi itu kalau dilihat dari segi dhohiriyah dunyawiyah, maka hati nurani tentu akan berkata lain. Ia akan selalu sering sejalan dengan kebenaran. Selama tidak dicampuri oleh keinginan dan kebencian.
Sebaliknya, dalam melaksanakan lawan daripada jujur kok malah banyak yang mengatakan hal itu merupakan perbuatan yang gampang, mudah, dan enteng. Tidak segan orang akan berani menjadi saksi palsu, demi uang. Mereka siap melukai nurani, hanya untuk kepentingan sesaat.
Padahal, seburuk-buruk perbuatan adalah berbohong. Disebutkan,ra'su adz dzunubi al kadzibu. Yang artinya, pangkal dan sumber segala kejahatan adalah bohong ( dusta )'
Orang tidak akan bisa berbuat lagi jika kepalanya telah dipenggal. Dan untuk memenggal kejahatan-kejahatan yang lain hendaklah diawali dengan meninggalkan perkataan atau perbuatan yang masih mengandung unsur kedustaan.
Seorang arab Badui pernah datang menghadap Rasulullah sallallahualaihiwasallam, untuk menyatakan keinginannya memeluk islam. Ia sudah bosan dengan berbagai macam kejahatan yang telah dilakukannya, seperti mencuri, merampok, berzina, mabuk-mabukan, berjudi, dll.
Mendengar pengakuan dari arab Badui itu, Rasulullah hanya meminta dirinya untuk berjanji agar tidak berdusta. Dengan penuh heran, ia pun balik kerumah sebagai seorang muslim. Ia tidak pernah berpikir akan islam yangdemikian mudah baginya. Padahal sebelum ia telah berusaha untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan maksiat, akan tetapi selalu kambuh dengan adanya kesempatan.
Sehingga pada suatu hari muncullah hasratnya untuk mencuri. begitu tangan sudah mengulur, ia teringatakan janji yang tellah ia ucapkan di hadapan Rasulullah. Ia tidak berani berbohong, jika Rasulullah bertanya tentang perilakunya.
Demikian pula tatkala ia sudah mendekati perbuatan mabuk-mabukan, judi, dan zina. Ia selalu ingat akan janjinya kepada Rasulullah. Sehingga akhirnya sisa hidupnya dimanfaatkan untuk memperdalam ilmu agama. Ia tidak sempat lagi untuk melakukan kemungkaran. Ia pun berubah ,menjadi seorang alim saleh.
Sungguh indah agama islam. Tatkala penganutnya berani jujur pada diri sendiri. Ia akan menemukan jati dirinya. Dimana tugasnya hanya menghamba kepada Yang Maha Kuasa, bukan kepada atasan di kantor ataupun kepada beberapa lembar uang. Meninggalkan perbuatan dusta menjadi kunci bagi orang yang ingin segera berubah menjadi orang yang lbaik ataupun menjadi orang yang lebih baik. Dalam ungkapan lain disebutkan Ar rahi ash Sharaha. Yang artinya, orang akan menemukan rasa lega tatkala ia telah berani untuk berterus terang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar